ASPEBINDO: Biomassa Bisnis Masa Depan Menuju Kemandirian Energi

ASPEBINDO Biomassa
Ketua Umum ASPEBINDO, Anggawira.

Jakarta, TAMBANG – Asosiasi Pemasok Energi, Mineral, dan Batubara Indonesia (ASPEBINDO) menilai biomassa sebagai sektor bisnis yang menjanjikan serta berpotensi besar mendukung kemandirian energi di masa depan.

“Sekarang ini sebenarnya (biomassa merupakan) bisnis masa depan. Beda dengan batu bara, ini perlu ada mekanisme supply chain-nya” ungkap Ketua Umum ASPEBINDO, Anggawira dalam Bioenergy – Biomass Opportunity Workshop, Training, and Field Trip di Jakarta, Kamis (28/8).

Menurutnya, Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan sumber daya biomassa, baik yang berasal dari limbah pertanian, perkebunan, maupun dari pohon-pohon penghasil energi.  

“Sebenarnya, semua bisa dijadikan bahan baku, hanya saja kualitasnya berbeda-beda. Pohon energi tentu memiliki kualitas lebih tinggi karena memang didesain khusus untuk kebutuhan energi,” ujar dia.

“Sementara itu, jika menggunakan limbah, biayanya mungkin bisa lebih rendah. Namun, bahan baku dari pohon energi tetap dinilai lebih unggul meskipun memerlukan biaya lebih besar, karena memang ditanam secara khusus untuk tujuan tersebut,” imbuh dia.

Saat ini, biomassa telah digunakan PLN EPI untuk co-firing di sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Sepanjang tahun 2024, PLN EPI mencatatkan volume pasokan biomassa sebesar 1,65 juta ton, naik dibandingkan tahun 2023 sebesar 1,01 juta ton.

Pada tahun 2025, PLN EPI menargetkan 3 juta ton biomassa untuk program co-firing di 48 PLTU.

Biomassa merupakan salah satu kunci strategis dalam mengejar target bauran energi sebesar 23% pada 2025 dan mencapai Net Zero Emissions (NZE) pada 2060. Adapun bahan baku co-firing PLTU saat ini terdiri dari cangkang sawit, ampas tebu, sekam padi, limbah kayu, serbuk kayu dan tanaman energi.

“Ini lebih kepada waste yang harus dioptimalkan, kayak sekarang gitu-gitu kan sebenarnya banyak banget, selama ini kan dibakar aja. Kalau ini bisa ada yang ngumpulin, makanya kan kerja samanya harus juga dengan pemerintah daerah,” bebernya.

Sepanjang 2024, program co-firing biomassa yang dijalankan PLN mampu menurunkan emisi karbon hingga 921.119 ton CO₂ dan sekaligus menghasilkan energi hijau mencapai 814 GWh.

Read more

Larangan Truk Batu Bara di Jalan Umum Sumsel, Pelaku Usaha Minta Perhatikan Kondisi Lapangan

Larangan Truk Batu Bara di Jalan Umum Sumsel, Pelaku Usaha Minta Perhatikan Kondisi Lapangan

Jakarta, TAMBANG – Pelaku usaha pertambangan menyatakan memahami kebijakan larangan penggunaan jalan umum untuk angkutan batu bara yang diterapkan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel). Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI), Gita Mahyarani, mengatakan bahwa pada prinsipnya pelaku usaha mendukung kebijakan penataan lalu lintas dan perlindungan infrastruktur jalan. “Kami memahami kebijakan

By Rian Wahyuddin
Pemprov Sumsel Larang Angkutan Batu Bara Lewat Jalan Umum, Ini Aturan Lengkapnya

Pemprov Sumsel Larang Angkutan Batu Bara Lewat Jalan Umum, Ini Aturan Lengkapnya

Jakarta, TAMBANG – Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) resmi melarang operasional truk angkutan batu bara melintasi jalan umum. Kebijakan ini diberlakukan untuk menertibkan aktivitas angkutan tambang sekaligus menjaga keselamatan masyarakat dan kondisi infrastruktur jalan. Larangan tersebut tertuang dalam Instruksi Gubernur Sumatera Selatan Nomor 500.11/004/INSTRUKSI/DISHUB/2025 tentang Penggunaan

By Rian Wahyuddin